Takut |Untuk Aku Sendiri

Malam ini aku hanya ingin berdamai dengan diriku sendiri, meskipun aku tahu nanti-entah kapan- perseteruan ini akan kembali menguap. Tapi setidaknya, malam ini aku tenang, langkahku sedikit ringan. Akhir-akhir ini aku merasa sesuatu terjadi pada diriku, sesuatu yang hanya bisa kurasakan sendiri, sesuatu yang sama sekali tidak bisa kubagikan, kubohongi, kututup-tutupi. Sesuatu yang mampu terwakilkan … More Takut |Untuk Aku Sendiri

Kepada Tuan

Tuan, Jika kau bertanya perihal masih adakah engkau dalam bait sajakku, aku akan berteriak dengan jawaban masih meski suaraku tak pernah berniatan untuk kau dengar. Tidak masalah, Tuan. Sebab mencintaimu adalah konsekuensi takdir yang sempat membawaku menujumu. Aku ingin terus mencintaimu. Di ruangan sunyi lagi kedap suara ini perasaanku menggelegar sedemikian rupanya, jangan harap kau … More Kepada Tuan

Tiba-tiba Hujan

Kalau kamu membaca ini, langit di atas atap rumahku sedang kelabu dan suasana mendadak menjadi dingin. Airnya berebut untuk jatuh, membasahi rerumputan kering di halaman belakang rumah. Dan yang paling aku benci adalah, ingatan tentangmu kembali menguap tanpa pernah bisa kubendung sama sekali. Meski nggak banyak, meski dominan hitam dan kelabunya, meski nggak tau mana … More Tiba-tiba Hujan

Hantaran Duka

Bun, maaf kali ini mengantar kabar senduPutrimu dilanda kalut, disekap takutIzinkan aku disini saja, BunBerlindung dibalik tempurung kepalaku yang berkarut Dua bulan lalu aku pulangAyah memelukku ramahTapi aku menyambutnya sambil berlinangEnggan, Bun. Menuju rumah untuk mengurai pintalan gelisah Kemudian seisi dunia ramai sekaliMaya nyata sama mengulas kabar pahitSeketika ribuan nyawa padam tanpa pamitKetakutan makin membelitku, … More Hantaran Duka

Pada Akhirnya #2

“Huft, nggak kerasa ya lama banget liburnya. Hari ini kita cuman bisa video call, coba aja nggak lagi corona, pasti aku udah main sampe rumahmu deh, hahaha” “Iyaa nih. Empat bulan udah bisa buat main ke rumah anak satu angkatan”“Eh, tau gak? Aku ikutan give away loh. Kalian aku tag di komen yaa” Kami tertawa, … More Pada Akhirnya #2

Menerpa Takdir #1

Ada untungnya juga dunia diciptakan memiliki akhir. Kalau abadi, segala macam drama kehidupan juga tak akan usai. Menjadi teori ketidak adilan bagi jiwa-jiwa nestapa yang tiap harinya merundungi nasib, sedangkan huru-hara manusia tidak pernah ada habisnya. Gusar kadang. Merasa melangkah di jalur yang keliru, tapi bagaimana lagi, telanjur berenang ya basah sekalian. Belum lagi kedua … More Menerpa Takdir #1

Pagi

Gadis itu tersedu-sedu, tenggelam di dalam pelukan seorang perempuan paruh baya di bawah remangnya getir rembulan. “Alam semesta ini baik, Nak. Baik sekali” “Kalau semesta baik, tidak ada sedan yang membanjiri bumi, Bu. Tidak ada cinta yang karam sebab dihantam badai lautan.” “Tapi pencipta semesta tak pernah luput. DisisiNya bergantung rahasia-rahasia yang sungguh tersimpan rapat. … More Pagi

Analogi Lampu

Anggap saja kita ini sedang berada dalam satu ruangan gelap. Berdesakan, berbagi ruang napas, berhimpit antar satu manusia dengan manusia yang lain. Suasana makin keruh sebab indra tak berfungsi di sana, yang kita rasakan hanya sesak dan ingin cepat-cepat keluar. Hingga salah seorang menyalakan lampu yang ada di ruangan tersebut, cahayanya perlahan merambat memenuhi seisi … More Analogi Lampu

Usai

Bagaimana, ya? Aku sudah kehilangan rimbunan sajakku untuk menceritakanmu lagi. Padahal sudah sedekat ini jarakku untuk mendekap, menuntun puisiku pulang menujumu. Pada akhirnya apa yang kukhawatirkan terjadi juga, kisah kita yang berakhir tanpa memiliki permulaan. Dan kamu yang tetap tak acuh meski aku terus memaksa agar ‘kita’ bisa menjadi peran utama dalam novel yang sudah … More Usai